Kamis, 07 Juli 2016

Renungan Pagi 06 Juli 2016

Batas-Batas Pengampuan (Bagian 2 Lagi)
“Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutan seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya iyu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akab kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskan hutangnya” (Matius 18:28-30).
 Adengan kedua dalam perumpamaan ini dari sudut pandang mannusia dan Ilahi menggerakkan aksi adengan pertama kepada hubungan antara dua umat manusia. Dan pada tahap inilah kita sebagai Petrus-Petrus mendapat masalah.
Marilah kita tangkap dinamikanya. Baru saja saya berdiri setelah bertelut dan meninggalkan tempat doa saya, saya benar-benar berada dalam suasana hati yang baik dalam keyakinan sepenuhnya pengampunan Allah. Sejauh itu, baik-baik saja.
Tetapi 10 menit kemudian, saya berpapasan dengan seorang berurtang yang selama berminggu-minggu menghindari saya. Dan beralasan. Dia berutang uang kepada saya, dan saya orang terakhir yang dia ingin temui.
Dan jumlah uang pinjaman itu tidak sedikit. Bagaimanapun, 1000 dinar adalah upah kerja 100 hari, kurang lebih sepertiga dari gaji tahunan. Dalam perhitungan yang sederhana kita bekerja dengan upah 7,5 dolar per jam, bila 8 jam kerja per hari selama 100 hari maka sama dengan 6.000 dolar. Itulah bagian yang tepat dari anggaran belanja tahunan saya, saya ingin uang saya dikembalikan, dan saya inginkan itu sekarang. Jadi saya menarik kerah bahunya dan memerintahkan dia membayar kalau tidak tahu sendiri.
Dan apa tanggapannya? Dia jatuh ke tanah, bertelut dan memohon kepada saya agar bersabar dan berjanji akan melunaskan utangnya.
Dan hal itu tidak cukup baik bagi saya. Saya sudah terlalu lama berurusan dengan manusia licik ini. Sekarang tiba saatnya keadilan dan kebenaran berlaku. Terlalu lama bermurah hati kepada sosok yang licik ini, saya akan member dia apa yang patut dia dapatkan.
Di dalam babak 2 perumpamaan mengenai pengampunan kita menemukan pandangan manusia. Orang lain sudah menghabiskan kuota pengampunan. Karena sudah mencapai batas-btasa pengampunan, saya akhirnya melepaskan amarah pembenaran diri sendiri. Sudah tiba waktunya bagi  saya untuk melaksanakan hukumini.
Permohonnanya belas kasihan sama sekali diabaikan adalah merupakan kenyataan. Hamper sama saya mengumandangkan doa baru-baru ini kepada Allah mengenaitopik yang sama. Begitu juga, tepat sekali, saya telah “melupakan” bahwa utang itu sesungguhnya adalah bagian utang saya kepada Allah.

Tetapi mengapa mengingat hal-hal teknis seperti itu apabila saya benar dan orang lain salah? Adil bukan, bahwa saya member mereka bagian yang patut menjadi bagian mereka. Memang begitukah?

 Source:    Renungan Pagi 2016 - Pandanglah Pada Yesus (Prof. George R. Knight)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar